Haruskah
semua berakhir pada takdir yang tak pernah bahkan tak mau aku ukir. Dikehidupan
penuh penantian akan hadirnya suatu kebahagiaan. Bukan cinta yang aku pinta bukan
pula rasa yang aku punya, tapi kepastian akan sebuah perjanjian yang terucap
atas apa yang diharap. Bukan sekedar berkata yang tak bermakna bukan pula
berjanji namun tak pasti. Kegundahan di kegelisahan dalam redup sayup kepedihan
yang tak pula berkesudahan. Di kehidupan hanya ada bias-bias keindahan yang tak
pernah bahkan mungkin takkan bisa kita rasakan jika hanya berteman dengan
kebodohan dan kebohongan.
Hanya
dengan nurani kita dapat mawas diri, berkaca pada pengalaman, berubah demi masa
depan, demi meraih suatu kebahagiaan. Sebuah kebanggan untuknya aku berucap dan
untuk ku aku bersikap. Demi satu yang dituju, demi masa lalu yang teramat
sangat ingin ku tinggalkan. Hapuskan selamanya samapi nanti samapi aku kembali
dengan diriku yang lebih berarti.
Semua
rasa yang ku punya, semua kata penuh makna yang ku rasa. Ku coba sampaikan
walau hanya dalam sebuah tulisan. Aku ingin dia ada untuk ku menggoreskan
lukisan-lukisan kebahagiaan di kehidupan ku yang sendiri tuk dimiliki. Jangan
ada palsu jika memang benar aku untukmu. Semua, kini seakan mimpi dalam
kehidupanku seperti terlahir kembali. Aku bukan yang dulu. Aku tak mau lagi
tertipu dengan kepalsuan dan kebohongan. Aku ingin kembali teruntuk mencintai
dia yang kini ada selamanya. Selama dia bicara dalam kejujuran, aku akan setia
untuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar