“Kamu tahu,
Sayang, aku sudah sesabar apa. Aku rela tidak menuntutmu ini itu, karena kesibukanmu yang segunung dan tak bisa sering-sering memberi kabar untukku. Aku
tidak memintamu selalu menghubungiku sepanjang waktu, berusaha tak memarahimu. ketika kamu lelah dengan kesibukanmu dan
melarikan semua amarahmu dengan cara menyakitiku. Aku setia jadi tempat curahan
hatimu, tempat kamu membentak seluruh isi dunia, tempat kamu membenci
hari-hari. Aku berusaha sekuat mungkin jadi dinding kokoh yang kau ludahi,
kau coret-coret, kau kotori
tanpa aku memakimu balik. Apakah kau tak
melihat kesabaran hati seorang perempuan dari semua sikapku yang selalu menahan
diri untuk tak menangis di depanmu?”
“Kamu tak
lihat air mataku, tak lihat juga seberapa parah lukaku selama ini. Aku tak
pernah berusaha berteriak seperti kamu selalu meneriakiku, tak mau melukaimu
seperti kamu selalu melukaiku. Sebutkan padaku, Sayang, perempuan mana yang
rela berdarah-darah untukmu selain ibumu dan aku? Perempuan mana yang ada
bersamamu bahkan dalam sakit dan lemahmu jika bukan ibumu dan aku? Apakah
perempuan lain yang selalu kau datangi dan kau cumbu
itu bisa bertahan denganmu bahkan dalam keadaan terburukmu? Apakah perempuan
lain yang selalu membuatku harus bersabar lebih banyak lagi ada perempuan yang
pantas kau datangi?”
“Sayang,
sadarlah, suatu saat nanti perempuan jalang
yang kau cumbu meskipun hanya lewat kata itu
akan pergi, mengisap habis seluruh kekuatan dan dayamu, pada akhirnya kamu akan
terseok-seok berjalan ke arahku. Namun, masa itu belum datang, Sayang. Saat
ini, kamu hanya melihatku sebagai perempuan ingusan yang bahkan belum lulus sekolah. Perempuan egois, labil, cabe, emosi, tak tahu diri yang
hanya ingin dikabari sepanjang hari. Sayang, kamu melihatku hanya dari sisi
yang paling kau benci. Kau belum
paham bahwa perempuan yang takut kehilangan kamu adalah perempuan yang sangat
mencintai kamu. Masa itu akan datang, Sayang, saat aku tak lagi memedulikanku
dan kamu bersunguh-sunguh memintaku pulang”
“Kali ini,
biarkan hatiku teriris sendiri. Biarkan aku yang terluka parah, biarkan aku
yang menangis diam-diam sekarang. Tapi, lihatlah nanti, Sayang. Suatu
saat nanti, air mataku berubah jadi senyum tak berkesudahan. Aku sebenarnya
tahu apa yang harus kulakukan, pergi meninggalkanmu, melupakanmu, dan
menganggap semua tak pernah terjadi. Namun, sekarang aku sudah tidak bisa sabar untuk menghadapimu, aku tidak ingin memberimu kesempatan untuk yang ke beribu kali. Semua kesabaranku kini telah kamu sia-siakan, mungkin jalan terbaik memang harus pergi.
Karena kamu bukan lagi pria yang kukenal seperti dulu lagi, bukan pria manis
yang kucintai karena ketulusan dan keramahannya.”
“Kini, kamu berubah jadi pria lain, pria egois yang selalu ingin
dimengerti kesibukkannya, dan membiarkan aku menunggu sabar tanpa melawan
ataupun membuka suara. Aku tak tahu mengapa perjuanganku hanya kauanggap angin
lalu. Apa matamu tak terbuka untuk menyadari siapa perempuan yang selama ini
jatuh bangun hanya untuk mencintaimu?”
“Biarlah
waktu yang membuatmu sadar, Sayang. Biarkan aku yang hanya kau anggap
angin lalu ini pergi pelan-pelan dari hidupmu. Beri aku kesempatan untuk
menghirup udara bebas dan tak lagi menangisi sikap cuekmu selama ini. “
“Permintaanku
tak banyak, aku hanya ingin kamu yang dulu kembali lagi ke masa kini.
Entahlah.... rasanya aku sangat ingin kamu yang dulu. Kamu yang lugu, polos,
dan selalu takut kehilangan kamu. Aku rindu kamu yang dulu.”
untuk
yang telah tega membohongi aku,
yang
hanya menganggapku pengatur hidupmu
&
memandangku paling salah