Minggu, 27 Juli 2014

pasangan hidup

Ini bukan tentang lebih tua, seumuran, atau lebih muda.
Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan.
Yang memberi kedamaian di hati, kenyamanan di sisi, dan kasih sayang tiada henti.
Tentang tertawa bersama, saling mensupport, mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tak berbatas tanpa berpikir ini pantas atau tidak.
Ketika dunia begitu kejam, dia menjadi tempatmu untuk selalu pulang.
Yang bisa membuatmu sangat sabar dan berusaha mengerti meski sulit. 
Menerimamu apa adanya meskipun kamu Cuma seadanya.
Wajah mungkin tak rupawan tapi kebersamaan dengannya itu sesuatu yang kamu yakin harus kamu perjuangkan.
Masa lalunya  tidak kamu persoalkan karena tau itu yang membentuknya sekarang.
Kekurangan masing-masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki agar jadi lebih baik.
Tentang dia yang kamu ikhlas seumur hidup menjadi makmum/imamnya.
Membuatmu bangga menjadi ibu/ayah dari anak-anaknya.

kerikil kecil

Sesuatu yg kecil bisa menyelinap dan menghancurkan dari dalam.
Dan yg paling menakutkan adalah, semuanya terjadi tanpa sempat kamu sadari.
Ironis rasanya memang mengetahui bagaimana seorang manusia bisa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yg besar.
Namun dalam waktu yg sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yg bisa hancur hanya karena kerikil kecil.
Sepasang manusia yg akhirnya rela melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yg luar biasa besarnya berdua.
Logikanya, sepasang manusia yg berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerilik kecil.
Namun sekali lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.
Badai yg besar harusnya malu kepada kerikil kecil.
Dan sepasang manusia yg kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yg terbawa oleh angin badai.
Aku tak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yg senantiasa menyertai mereka.
Sebuah cinta semestinya lebih digdaya dari pada badai dan kerikil yg melanda.
Kepada kamu, genggam tanganku.
Kita lewati badai, kita langkahi kerikil.
@landakgaul